coecoesm

ETIKA UTILITARISME DALAM BISNIS

Posted on: Oktober 12, 2014

ETIKA UTILITARIANISME DALAM BISNIS

Utilitarisme dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1784-1832). Dalam ajarannya Utilitarisme itu pada intinya adalah “Bagaimana menilai baik atau buruknya kebijaksanaan sosial politik, ekonomi dan legal secara moral” (bagaimana menilai kebijakan public yang memberikan dampak baik bagi sebanyak mungkin orang secara moral).

Etika Utilitarisme, kebijaksanaan dan kegiatan bisnis sama-sama bersifat teologis. Artinya keduanya selalu mengacu pada tujuan dan mendasar pada baik atau buruknya suatu keputusan.

Keputusan etis = utilitarisme

Keputusan bisnis = kebijakan bisnis

Ada dua kemungkinan dalam menentukan kebijakan public yaitu kemungkinan diterima oleh sebagian kalangan atau menerima kutukan dari sekelompok orang atas ketidaksukaan atas kebijakan yang dibuat.

Bentham menemukan dasar yang paling objektif dalam menentukan kebijakan umum atau public yaitu : apakah kebijakan atau suatu tindakan tertentu dapat memberikan manfaat atau hasil yang berguna atau bahkan sebaliknya memberi untuk orang – orang tertentu.

  1. Kriteria dan prinsip etika utilitarianisme

    1. Manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Jadi, kebijaksanaan atau tindakan yang baik adalah yang menghasilkan hal yang baik. Sebaliknya, kebijaksanaan atau tindakan yang tidak baik adalah yang mendatangkan kerugian tertentu.
    2. Manfaat terbesar, yaitu kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar) dibandingkan dengan kebijaksanaan atau tindakan alternative lainnya.
    3. Manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu dengan kata lain suatu kebijaksanaan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis menurut etika utilitarisme adalah kebijaksanaan atau tindakan yang membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang atau sebaliknya membawa akibat merugikan yang sekecil mungkin bagi sedikit mungkin orang.

Secara padat ketiga itu dapat dirumuskan sebagai berikut : bertindak sedemikian rupa sehingga tindakanmu itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak mungkin orang.

  1. Nilai positif etika utilitarianisme

    1. Rasionalitas, prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarisme ini tidak didasarkan pada aturan – aturan kaku yang mungkin tidak kita pahami dan yang tidak bisa kita persoalkan kesalahannya.
    2. Utilitarisme sangat menghargai kebebasan setiap perilaku moral. Setiap orang dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan hanya memberinya ketiga kriteria objektif dan rasional tadi.
    3. Universal, yaitu berbeda dengan etika teleology lainnya yang terutama menekankan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, utilitarisma justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang.

  2. Utilitarianisme sebagai proses dan standar penilaian

    1. Etika utilitarisme digunakan sebagai proses untuk mengambil keputusan, kebijaksanaan atau untuk bertindak.
    2. Etika utilitarisme sebagai standar penilaian bagi tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan.
  3. Analisa keuntungan dan kerugian

Pertama, keuntungan dan kerugian yang dianalisis jangan semata-mata dipusatkan pada keuntungan dan kerugian bagi perusahaan, kendati benar bahwa ini sasaran akhir. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah keuntungan dan kerugian bagi banyak pihak lain yang terkait dan berkepentingan, baik kelompok primer maupun sekunder. Jadi, dalam analisis ini, perlu juga diperhatikan bagaimana dan sejauh mana suatu kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan membawa akibat yang menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemasok, penyalur, karyawan, masyarakat luas, dan seterusnya. Ini berarti etika utilitarisme sangat sejalan dengan apa yang telah kita bahas sebagai pendekatan stakeholder.

Kedua, sering terjadi bahwa analisis keuntungan dan kerugian ditempatkan dalam kerangka uang (satuan yang sangat mudah dikalkulaasi). Yang perlu juga mendapat perhatian serius adalah bahwa keuntungan dan kerugian disini tidak hanya menyangkut aspek finansial, melainkan juga aspek – aspek moral, hak dan kepentingan konsumen, hak karyawan, kepuasan konsumen, dsb. Jadi, dalam kerangka klasik etika utilitarisme, manfaat harus ditafsirkan secara luas dalam kerangka kesejahteraan, kebahagiaan, keamanan sebanyak mungkin pihak terkait yang berkepentingan.

Ketiga, bisnis yang baik, hal yang juga mendapat perhatian dalam analisis keuntungan dan kerugian adalah keuntungan dan kerugian dalam jangka panjang. Ini penting karena bisa saja dalam jangka pendek sebuah kebijaksanaan dan tindakan bisnis tertentu sangat menguntungkan, tapi ternyata dalam jangka panjang merugikan atau paling kurang tidak memungkinkan perusahaan itu bertahan lama. Karena itu, benefits yang menjadi sasaran utama semua perusahaan adalah long term net benefits.

Sehubungan dengan tiga hal tersebut, langkah konkret yang perlu dilakukan dalam membuat sebuah kebijaksanaan bisnis adalah mengumpulkan dan mempertimbangkan alternative kebijaksanaan bisnis sebanyak – bnyaknya. Semua alternative kebijaksanaan dan kegiatan itu terutama dipertimbangkan dan dinilai dalam kaitan dengan manfaat bagi kelompok – kelompok terkait yang berkepentingan atau paling kurang. Alternative yang tidak merugikan kepentingan semua kelompok terkait yang berkepentingan. Kedua, semua alternatif pilihan itu perlu dinilai berdasarkan keuntungan yang akan dihasilkannya dalam kerangka luas menyangkut aspek – aspek moral. Ketiga, neraca keuntungan dibandingkan dengan kerugian, dalam aspek itu, perlu dipertimbangkan dalam kerangka jangka panjang. Kalau ini bisa dilakukan, pada akhirnya ada kemungkinan besar sekali bahwa kebijaksanaan atau kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan tidak hanya menguntungkan secara finansial, melainkan juga baik dalam etis.

  1. Kelemahan etika utilitarianisme

    1. Manfaat merupakan konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan praktis akan menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit.
    2. Etika utilatirisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya.
    3. Etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik seseorang.
    4. Variable yang dinilai tidak semuanya dapat dikualifikasi.
    5. Seandainya ketiga kriteria dari etika utilitarisme saling bertentangan, maka akan ada kesulitan dalam menentukan prioritas di antara ketiganya.
    6. Etika utilitarisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

SUMBER :

http://www.slideshare.net/LiscaArdiwinata/etika-utilitarianisme-dalam-bisnis

http://ashur.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/15645/Etika+Utilitarisme+dalam+Bisnis+-+Bab+III.ppt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jun   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS BERITA GUNADARMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: