coecoesm

POKOK BAHASAN PENALARAN

Posted on: Maret 14, 2014

PENDAHULUAN

Penalaran merupakan pengetahuan tentang prinsip-prinsip berfikir logis yang menjadi basis dalam diskusi ilmiah. Penalaran juga merupakan suatu ciri sikap (attitude) ilmiah yang sangat menuntut kesungguhan dalam menemukaan kebenaran ilmiah. Sikap ilmiah membentengi sikap untuk memecahkan masalah secara serampangan, subjektif, pragmatic dan emosional. Karena pentingnya masalah penalaran ini, bab ini membahas secara khusus pengertian penalaran dan berbagai aspek serta aplikasinya.

A.   Pengertian penalaran

Penalaran merupakan kegiatan, proses atau aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru berdasar pada beberapa pernyataan yang diketahui benar ataupun yang dianggap benar yang disebut premis.

Penalaran adalah proses berpikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.

Dari prosesnya penaralaran dapat dibedakan menjadi penalaran deduktif dan penalaran induktif.

  1. 1.      Penalaran induktif

Penalaran induktif adalah proses untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khhusus, proses ini disebut induksi. Penalaran induktif berkaitan juga dengan empirisme dimana secara empirisme ilmu memesihkan pengetahuan yang sesuai fakta atau tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan bersifat sementara.

Contoh penalaran induktif :

Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan

Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

Jadi didapat kesimpulan bahwa hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan cara melahirkan.

  • Macam-macam penalaran induktif

Penalaran induktif memiliki 3 jenis, yaitu :

  1. a.      Generalisasi

Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian.

Dalam pengembangan generalisasi dibuktikan dengan  fakta, contoh, data statistic, dan lain-lain.

Macam-macam generalisasi :

a)      Generalisasi sempurna

Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar kesimpulan yang diselidiki. Generalisasi ini memberi kesimpulan kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja belum diselidiki.

b)     Generalisasi tidak sempurna

Generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.

Penalaran generalisasi bertolak dari satu atau sejumlah fakta (fenomena atau peristiwa) khusus yang mempunyai kemiripan untuk membuat sebuah kesimpulan. Sejumlah peristiwa khusus dibuat dalam bentuk kalimat, kemudian pada akhir paragraf diakhiri dengan kalimat yang berisi generalisasi dari peristiwa.

  1. b.     Analogy

Analogy adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Kesimpulan yan diambil dengan jalan analogy, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa pendapat khusus yang lainnya, dengan cara membandingkan situasi yang satu dengan yang sebelumnya.

Dapat dikatakan bahwa penalaran analogy adalah proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya itu ditarik kesimpulan.

  1. c.      Hubungan sebab akibat

Hubungan sebab akibat merupakan proses berfikir dengan bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat, kemudian bergerak menuju sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat tadi.

  1. 2.      Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimp-ulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut deduksi.

  • Macam-macam penalaran deduktif :
  1. a.      Silogisme

Silogisme adalah suatu proses  penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proporsi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan satu kesimpulan.

Contoh :

Semua manusia akan mati.

Risna adalah manusia.

Jadi kesimpulannya bahwa risna manusia pasti akan mati.

  1. b.     Entimen

Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat pula dikatakan silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Contoh :

Proses fotosintesis memerlukan matahari.

Pada malam hari tidak ada matahari.

Kesimpulannya, pada malam hari tidak ada proses fotointesis.

B.    Proposisi

Proposisi merupakan kalimat logika yang mana pernyataan tentang hubungan antara dua atau lebih beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Ada juga yang mengekspresikan proposisi sebagai ekspresi verbal dari putusan yang berisi pengakuan atau pengingkaran sesuatu (predikat) terhadap sesuatu yang lain (subjek) yang dapat dinilai benar atau salah.

    • Unsur-unsur dalam proposisi :
      • Term subjek : hal tentang pengakuan atau pengingkaran ditujukan. Term subjek dalam sebuah proposisi disebut subjek logis.
      • Term predikat : isi pengakuan atau pengingkaran
      • Kopula : menghubungkan term subjek dan term predikat

    • Jenis-jenis Proposisi :

1)     Proposisi berdasarkan bentuk

  • Proposisi tunggal, merupakan proposisi yang terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
  • Proposisi majemuk, merupakan proposisi yang terdiri atas satu subjek dan lebih dari satu predikat.

2)     Proposisi berdasarkan sifat

  • Proposisi kategorial, proposisi yang hubungan subjek dan predikatnya tidak memerlukan syarat apapun.
  • Proposisi kondisional, proposisi yang pada hubungan subjek dan predikatnya memerlukan syarat tertentu.

Dalam proposisi kondisional terbagi menjadi dua macam, yaitu : proposisi kondisional hipotesis dan proposisi kondisional disjungtif atau mempunyai dua pilihan alternative.

3)     Proposisi berdasarkan kualitas

  • Proposisi positif atau afirmatif, merupakan proposisi yang predikatnya membenarkan subjek.
  • Proposisi negative, merupakan proposisi yang predikatnya tidak mendukung atau tidak membenarkan subjek.

4)     Proposisi berdasarkan kuantitas

  • Proposisi umum (universal), adalah proposisi dimana predikat mendukung atau mengingkari semua subjek.
  • Proposisi khusus (particular), adalah proposisi dimana pernyataan khusus mengiyakan yang sebagian subjek merupakan bagian dari predikat.

C.    Inferensi dan Implikasi

Inferensi merupakan suatu proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui. Inferensi juga merupakan konklusi logis atau implikasi berdasarkan informasi yang tersedia. Dalam system pakar, proses inferensi dilakukan dalam suatu modul yang disebut inference engine. Ketika representasi pengetahuan pada bagian knowledge base telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang cukup akurat, maka erpresentasi pengetahuan tersebut telah siap digunakan.

Implikasi itu artinya akibat, seandainya dikaitkan dengan konteks bahasa hukum, misalnya implikasi hukumnya, berarti akibat hukum yang akan terjadi berdasarkan suatu peristiwa hukum yang terjadi.

Bahasa hukum sebenarnya tidak rumit, prinsipnya bahasa hukum masih mengikuti kaidah EYD, bahasa Indonesia baku. Tetapi, untuk konteks tertentu, ada hal-hal yang tidak bisa mempergunakan bahasa Indonesia baku.

D.   Wujud Evidensi

Unsur yang paling penting dalam suatu tulisan argumentative adalah evidensi.  Pada hakikatnya evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas dan sebagainya yang di hubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran.

Fakta dalam kedudukan sebagai efidensi tidak boleh dicampur adukkan dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap sebuah evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah fakta itu benar atau tidak. Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pendengar sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya.

Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi itu berbentuk data dan informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu. Biasanya semua bahan informasi berupa statistik, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan, semuanya dimasukkan ke dalam pengertian data daninformasi. Untuk itu penulis atau pembicara harus mengadakan pengujian atas data dan informasi tersebut, apakah semua bahan keterangan itu merupakan fakta.

E.     Cara Menguji Data

Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara tertentu sehingga bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.

  • Observasi

Fakta-fakta yanag telah diajukan sebagai evidensi mungkin belum memuaskan seseorang pengarang atau penulis. Untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dan sekaligus dapat menggunakannya sebaik-baiknya dalam usaha menyakinkan para pembaca, maka kadang-kadang pengarang merasa perlu untuk mengadakan peninjauan atau observasi singkat untuk mengecek data atau informasi itu dan sesungguhnya dalam beberapa banyak hal pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh seseorang, biasanya didasarkan pula atas observasi yang telah diadakan.

  • Kesaksian

Keharusan menguji data dan informasi, tidak selalu harus diakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengharuskan seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus di keluarkan. Untuk mengatasi hal itu penulis atau pengarang dapat melakukan pengujian dan meminta kesaksian atau keterangan dari orang lain, yang telah mengalami sendiri atau menyelidiki sendiri persoalan itu. Demikian pula halnya dengan penulis dan pengarang atau penulis, untuk memperkuat evidensinya mereka dapat mempergunakan kesaksian orang lain yang telah mengalami peristiwa tersebut.

  • Autoritas

Cara ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu autoritas, yakni pendapat dari seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua fakta kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam bidang itu.

F.     Cara Menguji Fakta

Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta, setelah itu harus dilakukan penilaian kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar – benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.

Cara yang diambil yaitu melalui :

  • Konsistensi

Dasar pertama yang harus dipakai untuk menetapkan fakta mana yang akan dipakai sebagai evidensi adalah konsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga persuasif yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten, tidak ada suatu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi yang lain.

  • Koherensi

Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan penilaian atau fakta mana yang dapat dipergunakan sebagai evidensi adalah masalah koherensi.Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus pula koherendengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan pandangan atau sikap yang berlaku.

 G.   Cara Menilai Autoritas

Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.

Melalui penilaian sebagai berikut :

  • Tidak mengandung prasangka
  • Pengalaman dan pendidikan autoritas
  • Kemansyuran dan prestise
  • Kohorensi dengan kemajuan

LATIHAN SOAL

1)     Apa saja yang termasuk jenis penalaran induktif, kecuali :

  1. Generalisasi
  2. Analogy
  3. Hubungan sebab-akibat
  4. Silogisme

Jawab       : d (silogisme)

2)     proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya itu ditarik kesimpulan, merupakan kesimpulan dari :

  1. generalisasi
  2. analogy
  3. hubungan sebab-akibat
  4. silogisme

Jawab       : b (analogy)

3)     Proposisi yang berdasarkan kuantitas, yaitu :

  1. Proposisi umum & Proposisi khusus
  2. Proposisi positif & Proposisi Negatif
  3. Proposisi kategorial
  4. Proposisi kondisional

Jawab       : a (Proposisi umum & Proposisi khusus)

4)     Proposisi yang berdasarkan kualitas, yaitu :

  1. Proposisi umum & Proposisi khusus
  2. Proposisi positif & Proposisi Negatif
  3. Proposisi kategorial
  4. Proposisi kondisional

Jawab       : b (Proposisi positif & Proposisi negative)

5)     Yang merupakan unsur-unsur dalam proposisi yaitu :

  1. Generalisasi
  2. Silogisme
  3. Term subjek
  4. Autoritas

Jawab       : c (Term subjek)

SUMBER    :

http://taskactivity.tumblr.com/post/45831510548/penalaran

www.perkuliahan.com/makalah-kalimat-deduktif-induktif-bahasa-indonesia/

id.termwiki.com/ID:proportion_

idtesis.com/proposisi-dalil-teori-dan-fakta/

http://fadjarp3g.files.wordpress.com/2007/09/ok-penalaran_gerbang_.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2014
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS BERITA GUNADARMA

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: